Rabu, 21 Mei 2008

OPINI JOB


Sumber daya manusia berkualitas yang terampil dan berkemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang sangat diperlukan dalam memasuki dunia kerja saat ini. Lapangan kerja yang sempit dan tingginya angka masyarakat usia produktif yang belum memiliki pekerjan kian membuat persaingan meraih peluang pekerjaan semakin ketat. Oleh karena itu, kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya kemampuan mengoperasikan komputer dan kemampuan berbahasa Inggris akan memudahkan seseorang meraih peluang pekerjaan yang penuh daya saing ini.

Tulisan yang anda baca di atas merupakan bagian dari penulisan laporan Praktek Industri saya beberapa saat yang lalu sebagai tugas akhir kelulusan, tepatnya pada Bab I. Pendahuluan, A. Latar Belakang Praktek Industri. Saya menuliskan hal demikian berdasarkan realita yang ada. Mana ada sih, perusahaan yang mau menerima seseorang untuk dijadikan sebagai karyawannya tidak berkualitas. Jika ada, mungkin itu sebuah keterpaksaan, takdir, factor nepotisme atau mungkin uang yang berbicara. Bayangkan saja tiap tahunnya di Indonesia usia produktif yang baru lulus dari bangku SMA bahkan sarjana selalu bertambah, dan itu bukan pada hitungan puluhan, ratusan, atau ribuan melainkan jutaan (JUTAAN). Iya, jutaan warga Indonesia yang siap bekerja harus siap menjadi pengangguran. Bagaimana tidak? Bertambahnya populasi usia produktif tidak diimbangi dengan bertambahnya lapangan kerja. Dari hasil survey yang pernah saya baca dari salah satu media cetak di Indonesia menyatakan bahwa kesempatan bekerja bagi seseorang itu 1:1000 (satu banding seribu) namun ada juga yang mengatakan 1:100 (satu banding seratus). Terserah anda mau memilih yang mana atau mungkin anda punya pendapat sendiri dengan sumber terpercaya yaitu 1:1000.000 (satu banding sejuta). Yang jelas apa artinya itu? mendapatkan pekerjaan bagi seseorang itu peluangnya sulit apalagi bagi seseorang yang tidak mempunyai keterampilan sama sekali atau masuk kategori SDM tidak berkualitas.

Beda halnya dengan SDM berkualitas yang mempunyai keterampilan dalam berbagai bidang. Misalnya bidang IPTEK, pada zaman era modernisasi yang sudah terkomputerisasi mereka (SDM Berkualitas) dengan mudahnya keluar masuk dan menolak menerima tawaran pekerjaan dari perusahaan yang membutuhkan skillnya. Hanya duduk di depan computer ditemani sejuknya AC, seseorang bisa dengan mudah melamar pekerjaan kebanyak perusahaan hanya dalam hitungan menit atau bisa juga sejam tanpa harus bercapek-capek berkeliling ke tiap perusahaan hanya untuk memberikan amplop coklat yang berisi surat lamaran, pas foto, CV, ijasah dan lain2 masih mending kalau ada lowongan itupun hanya sekedar menitipkan saja. Maksud dari tanpa harus bercapek-capek? Hanya dengan uang Rp 2500 atau Rp 4000, seseorang bisa menjelajahi dunia maya di Warnet (warung Internet) untuk mencari lowongan-lowongan pekerjaan dengan membrowsing situs-situs yang khusus berisi info lowongan pekerjaan atau bahkan ada yang lebih mudah, sewaktu-waktu email kita inboxnya akan penuh dengan lowongan2 pekerjaan. Dengan mengklik lowongan pekerjaan yang kita mau, acara melamar pekerjaan sudah kita laksanakan, Mudah Bukan?. Tapi tunggu dulu, mudah bagi orang yang sudah mengetahui namun sulit bagi orang yang belum mengetahui.

Oleh karena itu, pada kalimat terakhir pada paragraph pertama Bab Pendahuluan laporan saya mengapa berbunyi seperti itu? Karena sudah saya pikirkan sebelumnya memang kenyataannya seperti itu di lapangan yang saya temukan. Jika tidak, terserah anda because it is my opinion.
Dalam hitungan minggu atau mungkin sebulan lebih seseorang hanya tinggal menunggu panggilan dari perusahaan2 yang telah kita lamar lewat internet. Kemudian memenuhi panggilan perusahaan tersebut hanya untuk proses interview atau tes-tes tanpa harus menjelaskan maksud kedatangannya untuk melamar. Menolak dan menerima pekerjaan itulah jawaban yang akan dikeluarkan bagi sang pelamar, kebanyakan sih gitu? Yang pernah saya alami. Sebagai contoh mengapa saya menolak pekerjaan dari perusahaan yang saya lamar, karena tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan, bagaimana tidak? Mereka mau menggaji saya pada saat bulan ke-5 saya bekerja, itu artinya selama 5 bulan itu saya harus menyediakan dana yang besar untuk kebutuhan saya sehari-hari selama bekerja. Untuk ongkospun pas-pasan apalagi buat ngekos dan makan sehari-hari, karena hidup di Ibukota itu penuh dengan intrik.

Masalah sulitnya mencari lapangan pekerjaan, memang sudah lagu lama yang akan menjadi lagu baru yang dimodifikasi setiap tahunnya. Persebaran kemakmuran dalam hal ketersediaan lapangan pekerjaan yang tidak merata adalah alasan nyata, yang sering membuat seseorang tergoda untuk mencari pekerjaan di kota-kota besar. Sebagai contoh, setiap kali saya membuka email saya, atau ketika membuka situs info lowongan kerja, Jakartalah yang mendominasi bahwa lowongan dari perusahaan2 itu berada di sana. Tak satu pun lowongan pekerjaan dari kota saya, Bogor tapi pernah sih ada cuman satu. Dan itu artinya yang salah itu siapa? Warga desa yang pergi ke kota (Jakarta) yang tiap tahunnya Jakarta dibanjiri para pendatang yang mengadu nasib dan berpikir Jakartalah surga pencari kerja atau perusahaan-perusahaan yang memang keinginan mereka mau membuka lapangan pekerjaan hanya di kota besar atau bahkan yang salah itu pemerintah yang lalai dalam hal persebaran kemakmuran, bukan hanya persebaran lapangan pekerjaan tetapi lalai dalam persebaran fasilitas2, sarana prasarana yang tidak dapat dirasakan masyarakat desa dan daerah.

Kita hanya bisa berharap dan berdoa semoga orang-orang yang pandai bersilat lidah tatkala mencalonkan dirinya sebagai pemimpin, baik itu pemimpin daerah dan pemimpin Negara pada saat kampanye, dengan mudahnya dan mulut manis memberikan janji muluk bahwa mereka AKAN menyediakan jutaan lapangan pekerjaan, pendidikan gratis, kesehatan gratis, apapun gratislah dan katanya dalam waktu dekat, semoga, semoga, dan semoga itu akan menjadi kenyataan. Memang hidup yang layak dan sekeliling kita sejahtera hanyalah sebuah mimpi dan angan belaka, dan memang untuk mendapatkan sebuah kesuksesan harus berawal dari mimpi tapi jangan menjadi pemimpi sejati. “Apa yang anda pikirkan menjadi kenyataan” Semoga pemimpin kita tidak zolim terhadap rakyatnya, suatu saat kelak. Tidak seperti sekarang ini, semua harga dinaik2kan dengan argument yang sangat meyakinkan disertai bukti nyata sehingga berefek jumlah warga miskin bertambah dan warga miskin bertambah miskin.
Tinggal kita instropeksi apakah setiap musibah yang menimpa negara ini apakah ujian, teguran, azab dari yang maha kuasa terhadap kita sebagai warga Indonesia, apakah terhadap pemimpin kita, dan apakah terhadap system yang dianut Negara kita???

Tulisan ini saya buat karena merupakan momen yang tepat sebagai bahan stimulasi agar kita peka terhadap kondisi sekeliling disaat masyarakat2 usia produktif sedang bersiap-siap mencari pekerjaan karena mereka telah lepas dari bangku pendidikan dan disaat momen PILKADA-PILKADA telah berlangsung, sedang berlangsung, dan akan berlangsung dimana ketika para kandidat sedang berbusa-busanya mulut mereka bersuara memberikan janji-janji mensejahterakan masyarakat pada saat kampanye karena saking banyaknya. Setelah itu terserah anda!!!
Tiada Kemuliaan tanpa Islam…

SAATNYA BERGERAK


PT Inti Abadi Kemasindo, PT Feriplus, PT Bukaka Teknik Utama, Starbucks, PT IMS, PT Max Gain, PT Datascrip, PT Coats Rejo Indonesia, PT Nutrifood Indonesia, PT Tirta Freshindo Jaya, PT Arum Investment Indonesia, PT Gama Prima, PT Karya Oliga Food, CV ARP, PT Makro Prima.

Apa yang anda pikirkan dengan nama-nama perusahaan di atas? Apakah saya sedang mengabsen nama-nama perusahaan di Indonesia? Tidak akan mungkin saya mengabsen perusahaan2 di Indonesia karena buanyak sekali. Tapi ada benarnya juga saya sedang mengabsen, lebih spesifik saya sedang mengingat-ingat beberapa perusahaan diantaranya pernah saya singgahi yang tujuannya untuk melamar pekerjaan, baik itu untuk memenuhi panggilan interview atau hanya menitipkan surat lamaran saya secara langsung, namun ada juga beberapa perusahaan yang saya lamar dikirim melalui jasa pos. perusahaan di atas saya masukkan dalam kategori ngelamar fisik maksudnya secara riil bahwa saya menyediakan lamaran, pas foto, CV, dll untuk diserahkan ke perusahaan tersebut namun ada juga yang tidak saya serahkan namun sudah jelas bahwa saya dipanggil perusahaan tersebut via telepon tetap saya masukkan dalam kategori ngelamar fisik. Ada ngelamar fisik ada juga ngelamar non fisik, maksudnya ngelamar tanpa harus menyediakan amplop, lamaran, CV, dsb. Hanya lewat internet saja dan sampai saat ini belum ada panggilan dari perusahaan yang saya lamar. entah karena belum dipanggil atau memang, tidak diterima.

Sudah genap satu bulan lebih, saya lulus dari sebuah lembaga pendidikan. Harapan setelah lulus agar segera mendapat kerja tinggal angin lalu, namun saya optimis dalam waktu dekat saya akan bekerja di sebuah perusahaan yang sudah saya lamar. apakah anda pikir selama satu bulan ini saya tidak bekerja dan hanya duduk mengkhayal menjadi eksekutif muda dan merenung menyesali apa yang pernah saya perbuat yaitu mengundurkan diri dari pekerjaan di sebuah perusahaan beberapa waktu lalu. Tidak sama sekali, tapi ada juga sih perasaan trauma bahwa dunia kerja itu keras perlu mental yang kuat untuk menghadapi dunia tersebut.

Selama sebulan ini saya bekerja menjadi hamba Allah dan bekerja menjadi sang anak dari orang tua saya dan bekerja mencari kerja. Yang namanya bekerja itu menghasilkan sesuatu, dan alhamdulilah dua minggu yang lalu saya bisa menghasilkan uang dengan entrepreneur kecil-kecilan dengan hasil yang besar-besaran. Yaitu, menyediakan jasa pengetikan dan pengeprinan di rumah saya dan itu dilakukan saya sendiri. Dan hasilnya saya gunakan untuk modal yaitu membeli tinta print dan modal untuk melamar kerja.

Terus terang jika dihitung-hitung, ternyata melamar kerja itu perlu modal yang lumayan juga ya. Yang membuat modal itu terkuras, yaitu ketika memenuhi panggilan interview dan pergi ke perusahaannya langsung. Angkot, bis, kereta api, bahkan ojeg, merekalah yang pernah membantu saya dalam proses perjalanan saya ke perusahaan yang saya lamar baik itu sendirian, rombongan, dan diantar langsung oleh kerabat saudara karena saya tidak tahu dimana lokasi persisnya perusahaan tersebut. Sebut saja kemayoran, Jakarta Pusat, terus terang saya masih asing dengan tempat itu dan akhirnya saya diantar oleh saudara yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari sana. Rombongan, saya dan teman-teman kira-kira 7 orang pergi ke perusahaan untuk melamar pekerjaan dari awal berangkat sampai pulang pun bersama-sama.

Sendirian, dengan modal PeDe, speak up dan tentunya uang, saya pergi ke Tangerang untuk melakukan proses interview dan hasilnya saya tolak untuk kerja di sana karena ternyata perusahaan yang saya lamar itu statusnya outsourcing mensyaratkan agar saya diterima kerja di perusahaan yang saya kehendaki dengan gaji sekian dan posisi tertentu haruslah membayar biaya administrasinya terlebih dahulu yang nominalnya lumayan Rp 200ribu lebih, katanya sih untuk medical chek up, disker, depnaker, dsb. Entah benar atau tidak yang jelas saya tidak mau, karena tidak bisa dipungkiri kita kerja untuk mencari uang bukan untuk memberi uang, dan kritikan untuk perusahaan tersebut adalah mereka itu sedang mencari karyawan atau sedang mencari uang sih? Yang jelas ketika itu saya tidak mempunyai uang sebesar itu, bayangkan saja!!! saya tinggal di Bogor sedangkan perusahaan tersebut di Tangerang buat ongkos pun pas-pasan. Tapi kenyataan, saya transit di rumah kakak saya yang kebetulan tinggal di Jakarta yang memang dekat dengan lokasi perusahaan tersebut di Tangerang. Menggunakan jasa pos pun, lumayan menguras dana, karena mau ga mau saya harus mengirimkan lamaran menggunakan kilat khusus agar cepat sampai dan hasilnya belum ada panggilan tuh.

Pernah saya titipkan lamaran ke kakak saya agar diserahkan ke perusahaan yang berada di area Bandara Soetta, katanya sih ada lowongan dan memang saya juga optimis disana yang paling berpengaruh dalam kaitannya dengan pekerjaan adalah kemampuan Bahasa Inggrisnya, dan saya merasa dengan modal sertifikat dan transkrip nilai yang dominant mata kuliahnya bahasa Inggris bisa menembus agar saya diterima minimal dipanggil dan hasilnya nihil. Pernah ada alasan mereka menolak, karena saya berdomisili di Bogor mereka maunya yang berdomisili di sekitar bandara, entah apa maksudnya? Silahkan pikir! Dan yang pasti alasannya adalah BELUM REJEKI SAYA UNTUK KERJA DI SANA.

Manusia hanya bisa berencana, berikhtiar dan berdoa namun ALLAH pulalah yang menentukan. Rencana untuk bekerja dalam waktu dekat sudah saya buat jauh-jauh hari bahkan sebelum wisuda. Berikhitiar mencari pekerjaan kesana kemari sudah saya lakukan dan berdoa sudah saya pasrahkan sepenuhnya kepada Allah bagaimana takdirNya.

Tulisan ini saya buat, bukan untuk mengeluarkan keluh kesah saya melainkan untuk mencurahkan pengalaman dan kejadian yang saya alami dalam bentuk tulisan. Nama blognya juga taufikdiary.blogspot.com, ya berarti isinya diarynya si Taufik alias nama belakang saya. Sehingga bagi seseorang yang membaca tulisan ini bisa mengambil pelajarannya dan hikmahnya. Lalu makna dari judul di atas adalah bahwa setelah tahu bahwa hasil ikhtiar dan doa kita masih nihil juga, tidak lantas kita berdiam diri saja dan merenung pada penyesalan dan sayang akan uang yang telah kita keluarkan. Akan tetapi, kita haruslah bergerak dengan cara berencana, berikhtiar, dan berdoa lagi, lagi dan lagi segera, segera dan segera. Setiap saat, kapanpun kita harus bergerak bahkan kita sedang tidurpun bergerak, dan memang ciri-ciri dari makhluk hidup itu bergerak.

Yang paling utama saya sampaikan permohonan maaf dan ampunan saya pada Allah SWT, apakah selama ini ikhtiar dan doa saya tidak sungguh-sungguh tanpa didasari rasa keikhlasan. Dan kedua orang tua saya yang telah menyuplay materi berupa uang, dan doanya, kerabat, saudara dan teman-teman terima kasih atas dukungan moralnya dan info2nya. Dan dosen-dosen saya ketika masih kuliah saya haturkan permohonan maaf juga yang pernah saya buat kecewa ketika saya memutuskan untuk berhenti dan keluar dari pekerjaan di sebuah perusahaan dimana saya bekerja atas refrensi mereka. Terutama Mam Nur, Bu Mirsya, Pak Dian dan lain-lain yang telah memberikan supportnya di saat saya akan mulai memasuki dunia kerja di perusahaan tersebut. Ternyata setelah itu baru saya terpikirkan dalam memasuki dunia kerja itu segalanya harus siap dan kuat, bukan hanya IQ yang harus siap dan kuat tetapi juga mental dan psikologis yang harus dipersiapkan dan dikuatkan. Segala sesuatu yang menyakitkan jangan dimasukkan ke dalam perasaan dan jangan dipikirkan, melainkan harus dijadikan bahan instropeksi kita dimana letak kesalahan yang membuat kita sakit itu sehingga sesuatu yang menyakitkan bisa kita ubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Contohnya, atasan kita sedang memarahi kita, anggap saja dia sedang berceloteh layaknya sang pendongeng sedang menokohkan antagonis. SEMOGA

Sampai bertemu lagi di gerbang kesuksesan! Jangan pernah melihat kesuksesan pada satu titik saja apakah orang tersebut bekerja atau tidak atau seseorang tersebut mempunyai perusahaan dimana-mana sehingga menjadi konglomerat. Karena Yang namanya kesuksesan bagi tiap orang itu pastilah berbeda-beda. Insya Allah saya akan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama saya kuliah dimanapun tidak hanya di dunia kerja melainkan di dunia sesungguhnya.



Sabtu, 26 April 2008

PERSPEKTIF TAUFIK


Tak terasa dari detik ke menit, jam, hari, bulan, tahun, windu, dasawarsa, abad, dan millennium, itu merupakan nama dan jenis-jenis waktu. Entah berapa banyak moment yang telah menghiasi waktu tersebut setiap harinya. Masih teringat dalam benak, saat-saat bahagia dan merasa sedikit sedih ketika lulus SMA. Dimana bahwa diri ini ternyata sudah saatnya memasuki dunia baru dan lepas dari dunia sekolah. Sedih, ketika planning dan harapan untuk melanjutkan pendidikan lagi dan terjun dalam dunia kuliah alias ingin masuk sebuah universitas terhalang oleh ketiadaan materi. Namun, hal itu terbayarkan ketika diri menemukan sebuah lembaga pendidikan, dimana untuk melanjutkan pendidikan lembaga tersebut tidaklah memerlukan materi sebagaimana lembaga atau universitas lainnya yang tergolong harus merogoh kocek dalam-dalam.


Bogor EduCARE, itulah sebuah lembaga pendidikan satu tahun Administrasi Perkantoran…. Dimana diri ini mendapatkan banyak hal yang bermakna. Ilmu pengetahuan sebagaimana mestinya, akhlak yang membuat seseorang mempunyai sikap terpuji, persahabatan dan persaudaraan yang tanpa memandang suku, jenis kelamin dan usia, kekeluargaan/keluarga yang membuat siswa dan guru layaknya anak dan orang tua. Itulah beberapa hal yang telah dirasakan dan didapat oleh diri ini dan diri yang lainnya selama belajar, bermain, bersilaturahmi di Bogor EduCARE.


Saya teringat akan pernyataan dari seorang ulama yang mengatakan “yang paling jauh di dunia ini adalah hari kemarin”. Dan memang iya dan benar, bahwa hari kemarin memanglah sangat jauh dan bahkan kita tidak akan lagi menemukan dan merasakan hari kemarin itu. Suasana belajar yang serius dibumbui canda gurau, mengerjakan tugas-tugas yang mau tidak mau harus dikerjakan, dimarahi atau bahasa halusnya dinasehati oleh dosen, adalah beberapa hal yang termasuk dalam hari kemarin, yaitu hari dimana saya dan saudara yang lain masih berstatus murid Bogor EduCARE. Yang berarti, hal itu tidak akan saya rasakan lagi dan akan tetap abadi dan utuh hanya menjadi sebuah kenangan.


Teman-teman seperjuangan baik laki-laki bagi yang merasa dirinya ikhwan dan perempuan bagi yang merasa dirinya akhwat di angkatan 10 ini, sudah tidak belajar lagi di Bogor EduCARE dan lepas dari Bogor EduCARE bukanlah akhir dari segalanya. Namun mungkin bisa dikatakan sebagai awal dari menapaki dunia sesungguhnya. Yaitu; Dunia yang membuat kita harus berjuang mencari rejeki sendiri karena sudah kurang pantas lagi kita menerima rejeki dari pemberian orang tua, dunia kerja yang penuh dengan kepahitan dan kebahagiaan, dunia entrepreneur yang penuh dengan cobaan dan persiapan yang matang, dunia dimana kita harus siap mandiri, dunia dimana bila diri mampu terjun kembali ke dunia menuntut ilmu di sebuah universitas dan dunia dimana kita harus segera mencari pasangan hidup kita di dunia ini agar kita bisa mempunyai keturunan hingga cucu buyut kita, hingga suatu saat kita bisa menceritakan pengalaman suka duka belajar di BEC kepada anak cucu kita.


Ujian demi Ujian telah dilewati, detik-detik mendebarkan saat-saat pembagian Kartu Hasil Siswa tiap catur wulan telah kita maknai, Praktek Industri telah kita kerjakan dan rasakan betapa kerasnya dunia kerja itu namun tergantung cara orang memandang bagi saya sih suka duka bersatu padu…


Bimbingan laporan dengan seorang dosen yang sikap keibuannya begitu besar telah saya laksanakan dengan meninggalkan banyak kenangan dan makna yang berharga betapa indahnya dan bahagianya bila diri merasa diperhatikan dan didengar segala curhatannya dan diberikannya support, nasehat yang membuat diri merasa termotivasi, meski setelah itu bimbingan laporan telah usai dan ujian sesungguhnya yaitu disidang dan hasilnya alhamdulilah telah berlalu masih saja diri ini merasa perlu untuk diperhatikan oleh dosen pembimbing ini. Beberapa curhatan telah disampaikan baik langsung maupun tidak langsung pada dosen tersebut, beberapa sapaan hangat selalu menghiasi setiap pertemuan, dan tak kalah pentingnya support dan perhatian masih saja tercurah dari diri dosen ini, wisuda yang penuh kebahagiaan dan keterharuan sudah berlalu begitu saja, tinggallah foto yang akan membuat diri ini mengenang kembali moment berharga itu, foto saat-saat diri ini berpakaian rapi dengan jas dan dasi, foto saat diri ini dengan seseorang yang sangat dicintai, yaitu ibu kandung dan foto saat diri bersama orang yang meninggalkan banyak moment di Bogor EduCARE, yaitu dosen pembimbing saya, Bu Mirsya. (Mrs. Mirsya Thank you very much)


Yang bisa saya katakan pada kesempatan ini, hidup ini hanya sekali, masa depan masih panjang bagi orang yang merasakan hal itu dan bagi yang merasakan masa depan sangat dekat bersiap-siaplah menghadapinya, dan suatu saat kesuksesan itu harus segera diraih. Entah bagaimana bentuknya tiap orang menanggapi sebuah kesuksesan itu menurut perspektifnya masing-masing.

Jumat, 25 April 2008

WISUDA

Sabtu, 19 April 2008 adalah suatu moment yang sangat berharga bagi diri ini dan teman-teman seperjuangan angkatan 10 BEC. Suatu moment yang harus dibayar dengan mahal dalam segala hal, baik itu fisik maupun non fisik. Pikiran dan materi telah kita upayakan selama belajar di Bogor EduCARE bahkan tenaga telah kita pakai. Akankah wisuda ini menjadi bukti, bahwa mendapatkan sesuatu yang berharga haruslah kita berusaha dengan sesungguh-sungguhnya dan menyiapkan segala hal untuk memperoleh hal tersebut.

Pagi itu, saya dan anggota keluarga yakni ibu, kakak dan adik tercinta memenuhi undangan untuk menghadiri acara wisuda saya, yakni wisuda VI Angkatan 10 Bogor EduCARE di gedung alumni IPB Baranang Siang, Bogor. Nampak rona bahagia terlihat di wajah teman-teman seperjuangan yang akan diwisuda pada hari itu. Sapaan hangat dengan beberapa teman dengan kerabat dan keluarganya, suasana kekeluargaan mengisi acara wisuda itu.

Saat-saat mendebarkan ketika diri melihat dan bertemu langsung dengan seseorang yang sangat berjasa dalam memfasilitasi pendidikan gratis ini. Seorang presiden direktur perusahaan swasta di negeri ini dan merupakan adik kandung dari wakil presiden kita, yaitu bapak Ir. H. Ahmad Kalla. Perasaan senang dan terharu ketika hati menerima sebuah sertifikat serta tak lupa ketika diri ini dikalungkan sebuah medali. Sungguh merupakan momen yang akan menjadi satu kali dalam hidup ini.

Perasaan malu dan kasian ketika melihat siswa terbaik angkatan 10 BEC ini terjatuh, membuat hati bertanya-tanya entah sebuah teguran dari sang Penciptakah atau memang sudah takdir. Heningnya para hadirin mendengarkan acara sambutan-sambutan digelar, namun ada juga beberapa orang dari peserta wisuda yang tidak memperhatikan orang yang memberikan sambutan didepannya. Entah tidak punya rasa malukah mereka atau memang suka sikapnya begitu jika ada orang berbicara didepannya mereka tidak mau menyimak.

Menyanyikan lagu kebangsaan dan mengucapkan janji alumni adalah sebagian dari acara yang dilakukan langsung oleh peserta wisuda. Pembacaan doa membuat hati ini bergetar alangkah nistanya diri kita jika kita tidak mau mengingat dan meminta segala sesuatu pada sang pencipta kita Allah SWT. Penutupan, merupakan rangkaian dari acara penutup dengan meninggalkan segala cerita dari acara formal ini. Setelah itu, barulah merupakan acara yang dinanti-nanti yaitu foto-foto. Foto-foto? Memang iya merupakan bagian segmen yang dinanti-nanti. Sebagai contoh, saya sudah jauh-jauh hari bertanya kesana kemari, siapa yang mempunyai kamera digital akan kupinjam. Namun, hasilnya nihil. Akhirnya, saya nyerah dan berkata pada salah seorang anggota keluarga saya, yaitu kakak saya agar dicarikan kamera digital untuk dibawa pada event acara yang berharga itu. Dan alhamdulillah, kakak saya mendapatkan kamera digital itu dengan meminjam dari salah seorang temannya. Rejeki memang tidak kemana, sehari sebelum wisuda paman saya menawarkan handycam untuk dibawa pada acara wisuda ini. Sayang namun sayang, handycam yang dibawa oleh kakak saya pada acara formal ini tidak dapat digunakan, karena sesuai kesepakatan panitia yang hanya boleh mengambil gambar dan video adalah pihak panitia. Jadi intinya, pada selama berlangsungnya acara wisuda itu kakak saya tidak merekamnya.

Pada acara sesi foto berlangsung berbagai macam fose dan gaya dilakukan oleh semua pihak untuk mengabadikan diri mereka pada sebuah gambar 2 dimensi. Peserta wisuda, orang tua dan anggota keluarga, kerabat dari peserta wisuda, dosen-dosen, tak terkecuali pak Ahmad Kalla sendiri semuanya larut dalam sebuah momen untuk mengisi kenangan berharga ini.

Saya sendiri pun tak luput dari momen ini, berbagai tempat, berbagai pihak saya ajak untuk mengisi kenangan pribadi saya. Teman-teman seperjuangan, orang tua, adik dan kakak tercinta, tak ketinggalan dosen yang saya kagumi saya ajak untuk berfoto bareng. Namun, saya kecewa karena hanya satu dosen yang bisa saya ajak untuk berfoto bareng dengan saya, yaitu dosen pembimbing saya ketika menulis laporan. Entah karena saya tidak sempat atau mereka yang tidak sempat…. Hanya akan menjadi sebuah pertanyaan???

Teriring doa, semoga diberikan kesembuhan, ketabahan kepada saudara dan sahabat kita, Yana Badri Salam yang pada kesempatan itu tidak dapat menghadiri acara yang sangat dinanti oleh siswa BEC pada umumnya karena sebuah musibah kecelakaan dirinya yang kini atau sudah pulang dari rumah sakit.

Sabtu, 23 Februari 2008

OPEN YOUR MIND !!!


“Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab, yaitu orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir”

Ada 500 orang berlomba lari marathon. Kemudian dua orang pelari marathon bersaing secara ketat, dan kini seratus meter lagi menjelang finish dan keduanya berada dalam posisi sejajar.

Pelari pertama yang bernama Negat melihat pesaingnya yang bernama Posit. Negat berpikir “Waduh sialan, si Posit larinya tambah kenceng aja, mana gue udah kecapean lagi, bias gak y ague ngalahin dia?”.

Di sisi lain si Posit pun berpikir “Gue harus menang, apalagi gue lihat si Negat udah kelelahan, dan gue akan tambah kecepatan lari gue, tinggal 100 meter lagi kok…Bismillah!”.

Menurut anda si Negat atau si Posit yang berpeluang menang?

Ingat, semuanya diawali dari cara berpikir…

Tersenyumlah, awalilah keputusan dan langkah Anda dengan senyuman dan sikap optimis.

Tersenyumlah, insya Allah proyek-proyek dunia dan akhirat, tidak lagi ragu mendatangi Anda.

Guru Kehidupan

Untuk menjaga motivasi Anda agar Anda tetap berada dalam koridor tujuan hidup Anda, maka Anda perlu guru/mentor, bukan sekadar guru yang mengajari Anda membaca Alquran dan Alhadist, tapi carilah guru kehidupan, yang Anda bias mengaksesnya kapanpun Anda sangat membutuhkannya. Kalau perlu bergurulah kepada 2 orang atau lebih, sebab seringkali seorang guru tidak memenuhi semua kebutuhan impian Anda. Yang penting bergurulah segera, sukses dengan otodidak biasanya sangat lambat dan sedikit orang yang bias melakukannya dengan cepat. Ya memang, hanya sedikit manusia yang sukses tanpa guru.

AA Gym, seorang Da’I berpengaruh, ternyata kesuksesannya tidak semat-mata karena mendapatkan hidayah dari Allah, tetapi beliaupun mengalami proses berguru kepada beberapa orang yang beliau anggp mampu membimbingnya.

Itu sebabnya, temukanlah guru kehidupan Anda, dan jadilah murid yang baik. Tapi sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu Anda periksa dan rasakan dari calon guru Anda, yaitu;

Lihat kualitas sholatnya, setidaknya secara kasat mata dan kasat telinga.

Kemudian perhatikan bacaan Alfatihahnya.

Lihat ketepatan waktu sholatnya.

Lihatlah apakah sholatnya ‘tuma’ninah’ (tenang).

Selain itu lihat cara makannya.

Dan jangan lupat lihat keluarganya.

Selanjutnya, rasakanlah keseriusannya.

Guruku sahabatku, dan sahabatku adalah guruku!

BETHE : Aris Ahmad Jaya

Untuk Kita Renungkan !!!

Abu Hurairah RA meriwayatkan

“Takkan terjadi kiamat sehingga ada dua pasukan besar berperang. Pertempuran terjadi diantara keduanya demikian sengitnya, padahal pengakuan masing-masing sama… Dan (tidak akan terjadi kiamat) sebelum dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa bumi, waktu berlalu cepat, huru-hara merajalela dan banyak terjadi kerusuhan yaitu pembunuhan. (HR. Ahmad)