Sabtu, 27 September 2008

Mudik Ceritanya

Menangis, menjerit, bersedih, oh tidaaak. Begitulah perasaan yang menghiasi setiap muslim yang merasa beriman di dunia ini tatkala Ramadhan nan mulia nan berkah yang penuh ampunan akan meninggalkan kita dan tak terasa kita sudah berada dihari-hari terakhirnya. Menangis, menjerit, bersedih ketika diri ini dan diri Muslim lainnya berpikir akankah Ramadhan selanjutnya kita akan bertemu dengannya lagi, bisakah kita beribadah dengan sungguh-sungguh walaupun hari ini bukan Ramadhan? Hari-hari terakhir Ramadhan hari dimana kaum Muslim ramai berlomba-lomba mencari dan mengharap sebuah malam yang istimewa yang penuh kedamaian yaitu Lailatul Qadar. Namun, di satu sisi hari-hari terakhir Ramadhan, sebagian Muslim lainnya sedang sibuk2nya mencari, berkeliling ke setiap pasar, mall, swalayan dsb. untuk berbelanja membeli kebutuhan-kebutuhan pokok yang katanya untuk dipakai, dirasakan dan dinikmati ketika hari kemenangan tiba pada hari raya Idul Fitri.

H-7, H-6, H-5, H-4, H-3, H-2, H-1, H, H+1, H+2, H+3, H+4, H+5, H+6, H+7… istilah itu pula yang sering menghiasi telinga kita dan mata kita ketika Ramadhan akan berakhir dan telah berakhir di berita-berita baik cetak maupun elektronik. Namun apa maksudnya? deretan H yang tak pernah lepas jika lebaran akan tiba, dimana sebagian kaum Muslim Indonesia biasa melakukan rutinitasnya yaitu pulang kampung alias mudik. Sebuah rutinitas yang katanya hanya terjadi di negara kita saja, walaupun rutinitas tersebut ada di negara lain namun tak sebesar dan tak seramai di negara kita. Ya begitulah mudik, mudik yang dilakukan orang-orang yang mengadu nasib dan bekerja di kota sudah saatnya mereka kembali ke kampong halamannya walaupun hanya setahun sekali. Darat, laut, udara apapun bisa ditempuh agar orang-orang bisa melakukan mudik namun tergantung sikon keuangan dan ke moodan mereka.

Mudik ceritanya… ya begitulah saya menyebutnya ketika di rutinitas kerja saya resmi libur, saya mulai berbenah membawa perlengkapan-perlengkapan termasuk pakaian yang berada di mess untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Walaupun kata orang-orang jarak kampung saya dengan kota tempat saya bekerja terbilang dekat namun sudah berbeda propinsi, boleh dong saya katakan mudik.

Sabtu, 27 September 2008 hari itu merupakan hal perdana saya secara pribadi melakukan hal yang merupakan rutinitas tahunan masyarakat Indonesia. Saya dan para penghuni mess melakukan rutinitas itu, namun tidak tahu bagi teman saya apakah itu hal perdana bagi mereka. Hari itu mungkin hari terakhir kami sahur bareng di mess di bulan Ramadhan tahun ini yang sebentar lagi berakhir, hari dimana hari itu kami akan pulang ke rumah masing-masing. Rumah dimana keluarga masing-masing sedang menunggu dan menanti salah satu anggota keluarganya agar bisa berkumpul dan bersilaturahmi tatkala hari kemenangan tiba.

Mess tempat kami makan bersama tidur bersama dan mandi yang tak mungkin bersama, pada paginya kami bersihkan dari sampah dan debu. Mess, sebuah rumah kontrakan yang lumayan sederhana itu sengaja kami jadikan tempat untuk diabadikan dalam sebuah karya 2 dimensi (foto). Ya begitulah, anak-anak bogor sebutan bagi kami oleh karyawan-karyawan di perusahaan kami bekerja di PT. Wahana Prestasi Logistik yang sempat ada beberapa orang menyebut kami narsis karena dilihat dari sifat dan aktivitas kami. Termasuk saya, dimanapun jadi saya melakukan pemotretan sendirian di kantor atau di tempat lain walaupun hanya dengan telepon genggam saya dan setelah itu salah satu dari foto tersebut saya pasang pada Yahoo Messenger saya. Foto-foto di sebuah mess walaupun hanya menggunakan telepon genggam sudah cukup terbayarkan agar bisa diabadikan, ini loh tempat kami tinggal, ini loh kami.

Selesai berbenah dan berfoto ria, mess kami kunci. Tas yang berat yang berisikan pakaian-pakaian dan lain sebagainya kami bawa untuk dibawa pulang dan menemani perjalanan ke rumah masing-masing. Angkot dan bis yang melayani kami pulang, terminal yang bersedia menyediakan tempat untuk kami singgah setelah itu. Nampak kesibukan, keramaian kepadatan di salah satu terminal ibukota, terminal lebak bulus penuh dengan bis dan yang pasti penuh dengan orang-orang yang akan melakukan mudik. Semakin terasalah, aktivitas mudik ini. Dan sempat tersadar bahwa diri ini telah berada dan ikut serta di sebuah rutinitas tahunan yaitu mudik.

Indranya yang punya Gadog, Olihnya yang punya kampung dekeng, Mamunya yang punya Bojong, Junotnya yang punya Sukabumi, Tejonya yang punya Ciomas dan Ucupnya yang punya Panaragan yang makna sebenarnya nama-nama tempat itu bukan yang kami punya melainkan nama kampung kami masing-masing. Sengaja saya gunakan kalimat itu dari salah satu teman saya, yaitu Mamu yang sering berbicara seperti itu. Ya begitulah kami, yang masing-masing memiliki karakter yang sama dan yang sebenarnya karakter kami berbeda-beda. Karakter yang sama mungkin kami dapat dari tempat yang sama ketika kami menuntut ilmu di Bogor EduCARE dan karakter yang berbeda yang didapat sejak lahir. Mudik yang kali ini sempat saya merasa kecewa, dan mudik kali ini yang membuat saya bahagia bercampur dalam hati dan pikiran. Kecewa, ketika hati dan pikiran dibisiki oleh godaan Syaitan tatkala hasil materi yang didapat dari kerja kami terbilang kecil, namun bahagia ketika godaan Syaitan kami abaikan dan iman kami tetapkan besar kecilnya materi yang didapat harus kami syukuri.

Mudik ceritanya, ya begitulah ketika ada anggota keluarga saya berkata pada saya ketika sesampainya di rumah datang membawa tas yang padat berisi dan menjinjing bawaan lainnya. Sempat saya berpikir, akankah tahun berikutnya saya melakukan rutinitas tahunan ini, yaitu mudik? Wallahu’alam... dan yang pasti akankah Ramadhan berikutnya saya masih diberi kepercayaan untuk diberi usia setahun lagi agar bisa bertemu, merasakan, beribadah di bulan Ramadhan.

Minggu, 14 September 2008

Hari Ini Milik Anda


Jika anda berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa Anda inilah hari Anda. Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

Tulisan diatas merupakan penggalan kalimat sebuah buku yang miliki yaitu La Tahzan (jangan bersedih), sengaja saya gunakan kalimat sebagai pembuka artikel ini merupakan kalimat motivasi yang selalu ada dalam bayangan saya sekarang ini. Sampai-sampai sempat ada beberapa orang yang menegur saya ketika bekerja, kenapa status messages YM saya (Yahoo Messenger) kalimatnya itu terus dalam beberapa hari. Namun, sekarang hampir tiap hari status message YM saya ganti dengan kalimat-kalimat motivasi / mutiara yang diambil dari buku saya ini, La Tahzan. Hari ini milik anda, bukan berarti hari ini milik anda sepenuhnya dan yang lain tak boleh memiliki. Namun, dalam artian hari ini yang sedang anda dan lainnya rasakan, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya karena hari kemarin sudah bukan milik anda dan hari esok belum tentu milik anda.

Hari ini hari dimana saya merasa jenuh, sedih, senang, riang, gembira dsb. yang silih berganti kadang bercampur bersatu padu. Jenuh yang tak seharusnya dirasakan, sedih yang tak sepantasnya diungkapkan, senang, riang, gembira yang semestinya kita rasakan walaupun kejenuhan dan kesedihan sedang kita alami. Pernah terbersit dalam benak, untuk apa koleksi buku-buku psikologi, motivasi, novel, dan agama saya miliki namun toh setelah dibeli dan dimiliki buku-buku tersebut hanya sebuah koleksi semata. 5 buah buku sekaligus yang saya beli, belum satupun saya baca, satu buku sempat saya baca hanya beberapa lembar saja padahal sudah satu bulan lebih 5 buah buku itu berada di meja belajar saya. Kesibukankah atau malas yang membuat saya belum membaca. Apalah arti sebuah buku jika tidak dibaca, walaupun saya belum sempat saya baca, ternyata di rumah ada beberapa orang yang sudah membacanya terutama oleh ayah tercinta. Maka mulailah dari sekarang kita niatkan untuk membaca.

Hari ini hari dimana anda takkan pernah tahu sesuatu yang sedang saya rasakan jika saya tak memberitahukannya, suatu saat saya akan memberitahukannya. Hari ini hari dimana saya tak mungkin dan tak akan pernah tahu kapan ajal saya dan rekan-rekan semua dijemput oleh sang Pemilik dan Pencipta alam raya ini. Dosa-dosa kian menumpuk tak sebanding dengan langkah dan cara kita menebus dosa-dosa itu agar mohon diampunkan. Dosa-dosa yang terus terukir tak sepantasnyalah terukir jika iman dan islam masih tertancap di dalam hati dan diri. Ramadhan yang selalu dinanti dan dirindu oleh setiap individu Muslim di dunia karena didalamnya penuh dengan keberkahan-keberkahan, ampunan-ampunan, pahala-pahala dari Allah yang jika ladang amal yang memang ada di dunia ini kita tanam kita praktekkan hingga suatu saat kita bisa memetik hasil dari ladang amal, Insya Allah di dunia dan jika tidak di akhiratlah kita bisa memanennya dan mendapatkan apa yang telah kita perbuat dengan amal-amal itu.

Rutinitas yang terjadi hari ini, mau tidak mau harus kita lakukan suka ataupun tidak suka, Ikhlas haruslah! Percuma jika setiap hal yang kita lakukan tidak disertai dengan ikhlas akan membuat diri ini sia-sia. Setiap rutinitas pekerjaan di kantor dan aktivitas di lingkungan sekitar jalanilah sebagaimana air mengalir, ikutlah dalam alir dan alur kehidupan yang dirasa baik. Kejenuhan itu memang suatu saat terjadi di perusahaan tempat kita bekerja atau di lingkungan tempat kita tinggal. Namun, jika memang ada jalan keluar yang lebih baik carilah dan raihlah, bukan berarti kita lari dari masalah yang membuat diri kita jenuh. Uang sedekah dan zakat kita yang kita keluarkan hanya untuk dapat riya saja. Kekhusyu’an sholat kita, kefasihan tilawah Al Qur’an kita tak sefasih dan tak sekhusyuk di mata Allah jika masih menempel dalam diri dan hati bahwa hanya ingin dilihat dan didengar orang lain hingga seseorang yang melihat dan mendengarnya merasa terkagum-kagum. Blank, nihil semua itu tak berarti apa-apa. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Harta, waktu, tenaga, dan sebagainya yang kita keluarkan dan korbankan yang katanya untuk mengharap ridho Allah semuanya sirna hanya akan menjadi tumpukan amal-amal yang kosong.

Maka mulailah dari hari ini kita berbuat kebajikan dan kebaikan, amal-amal sholeh yang kita perbuat haruslah disertai dengan ikhlas. Karena, hari ini milik anda, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya jangan tunggu hari esok yang belum tentu milik anda apalagi hari kemarin yang tak akan pernah mungkin kita rasakan dan dapati.

Minggu, 07 September 2008

Ramadhan Kali ini...

Malam berganti siang, jarum jam hanya sekali berdetak tiap detik tapi tak terasa bulan yang dinantikan orang-orang yang mencari ridhoNya akan datang, Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan bathin.

Tajamnya perkataan yang kian terucap, tak bersahabatnya raut wajah yang kian terlihat, angkuhnya jiwa raga dalam bersikap. Mengingat Ramadhan yang kian mendekat hanya kata maaf yang dapat kuucap.

Waktu mengalir bagaikan air, Ramadhan yang suci segera hadir, ada luka yang pernah terukir, ada khilaf yang sempat tergulir... Sucikan hati mohon maaf lahir dan bathin.

Gerbang maaf telah terbuka, bulan penuh rahmat di depan mata. Kebersihan hati telah menjadi sarana, saling memaafkan atas segala dosa, agar puasa lebih bermakna.

Jika lisan ini tak sempat tuk berucap, tangan tak sempat tuk berjabat, maka hanya dengan pesan kilat aku dapat berharap. Mohon dibukakan pintu maaf atas segala salah dan khilaf. Marhaban ya Syahru Ramadhan...

Dan masih banyak lagi...

Apa maksud dari tulisan-tulisan diatas? Insya Allah akhi ukhti sekalian tahu, namun bagi yang belum tahu saya akan memberitahukannya. Tulisan diatas merupakan lima dari belasan pesan dalam bentuk SMS yang ada di inbox hand phone saya yang datang dari rekan kerabat saudara, yang maknanya mereka mengucapkan permohonan maaf lahir bathin dalam menyambut bulan nan suci Ramadhan. Meskipun tak secara langsung bertemu dengan saudara tsb, sekedar SMS pun kan terasa senang di hati ternyata diri ini tidak hidup sendiri. Walaupun dalam realitanya, kita hidup bertetangga bahkan dalam satu rumah, masih saja ada orang yang merasa hidupnya sendiri terkesan menyepi entah apa masalahnya hal itu bisa terjadi.

Ramadhan kali ini... terus terang saja terasa beda, dalam arti beda tak biasanya saya menunaikan ibadah shaum (puasa) bersama dengan orang-orang yang paling saya cintai orang tua, adik, keluarga dan rekan, kerabat, saudara di lingkungan rumah di kota halaman kampung Gadog. Santap sahur Buka puasa bersama orang dicinta yang biasanya ditemani oleh acara hiburan televisi sekarang tak dirasakan, makan yang biasanya telah disediakan oleh ibu tercinta kini tidak lagi, akan tetapi bisa sih hal itu terasa walaupun hanya seminggu sekali atau dua kali. Tarawih dan Sholat wajib berjamaah di masjid sekitar rumah pun hanya bisa dilakukan ketika saya berada di rumah. Mengapa? Karena tuntutan karirlah yang menyebabkan saya tidak ada di rumah. Saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah ciputat bersama saudara-saudara satu kampus.

Ya begitulah... Ramadhan kali ini beda meskipun baru seminggu saya menjalaninya. Tarawih pertama dan sahur perdana dilakukan di lingkungan rumah, namun buka puasa perdana dilakukan di kantor tempat kerja saya. Di rumah atau di kantor sama aja sih, kita niatnya untuk ibadah, mendapat berkah, memohon ampunan, dan keselamatan di bulan suci Ramadhan ini. Sahur, alhamdulillah bisa dilakukan bersama 5 orang teman saya di mess, meskipun kenyataannya ada teman saya yang harus kerja malam. Jadi setelah dia sahur atau sholat subuh dia kembali ke tempat kerjanya. Meskipun kita makan nasi beserta lauknya di taruh di sebuah nampan dan dimakan bersama-sama, tetap kami syukuri agar syarat ibadah puasa kita diridhoi Allah SWT dan santap sahur kita mendapat keberkahan. Buka puasa, jika berada di rumah terkadang ada saja kegiatan ngabuburit, namun disini di ciputat ngabuburit tersebut saya habiskan di kantor sambil mengerjakan kewajiban saya. Setelah itu, tibalah waktu yang ditunggu setelah seharian berpuasa yaitu buka bersama.

Tilawah Al Qur’an dilantunkan sambil menunggu waktu maghrib di mushola kantor, walaupun hanya beberapa butir kurma terkadang seteguk air diminum untuk membatalkan puasa, pasti kuat kami melakukan sholat magrib. Setelah itu, barulah acara yang terkesan balas dendam namun sebenarnya tidak, kami makan dengan di awali appertizer lalu makan nasi beserta lauknya alangkah kenyangnya setelah itu. Canda gurau dihiasi bersama rekan-rekan karyawan yang lain sambil menikmati hidangan buka puasa. Sholat Isya dan tarawih yang biasa rutin dilakukan selama bulan Ramadhan, hanya saya yang merasa beda. Bagaimana tidak, teman satu mess saya melaksanakan sholat tarawih di mushola kantor. Namun, saya melaksanakan sholat tarawih tsb di sebuah masjid yang lumayan besar disekitar kantor.

Bukan maksud hal-hal furuiyah dipermasalahkan dan dibeda-bedakan, namun tiap-tiap muslim punyalah pemahaman tersendiri selama tidak melenceng apa yang sebenarnya diajarkan oleh Islam. Saya melaksanakan tarawih di masjid sedangkan teman yang lain melaksanakannya di mushola kantor, pastilah ada alasannya. Saya yang biasa tarawih 23 rakaat, pastilah ingin melaksanakan ibadah sesuai dengan pemahaman yang saya dapat dari guru ngaji. Sedangkan teman yang lain melaksanakan 11 rakaat. Terserah orang mau bicara apa, selama amal yang dilakukan muslim ada alasan dan gurunya tidak bertentangan dengan Islam, tidak apa-apa. Ya, selama ada tempat yaitu masjid jamaah yang melaksanakan sholat tarawih 23 rakaat ya saya ikuti. Disamping itu, saya merasa kalau sholat di masjid lebih terasa suasana malam Ramadhannya. Tua-muda, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, para pemuda pemudi tunduk sujud melaksanakan ibadah memohon ridho Allah SWT di malam bulan ampunan dan keberkahan.

Beberapa masalah sempat menghiasi diri ini dan diri yang lain, baik itu di kantor ataupun di mess. Namun, saya sadari kita hidup di dunia haruslah siap menghadapi masalah, jika tidak ingin menghadapi masalah jalan keluarnya ya jauhilah kehidupan atau tidak usah hidup. Sebagai contoh jika kita tidak mau mencium baunya selokan ya kita harus menjauhi selokan tsb. Apalagi di bulan suci ini, bulan pelatihan, bulan ujian, setiap masalah suatu saat pasti menghadang kita tapi tidak hanya di bulan suci melainkan dibulan yang lain.

2 Bulan Lebih...

2 bulan lebih sudah diri ini tak berkarya tak berkreasi dan tak mencurahkan uraian kata-kata yang ada di dalam hati dan pikiran di dunia maya, dalam arti sudah lama tidak posting artikel pada blog kesayangan saya ini. Entah malaskah, tak ada waktukah, tak bergairah lagikah untuk membuat artikel yang sewaktu-waktu jika orang-orang mengunjungi blog ini menyempatkan waktu sejenak membaca artikel yang saya buat dan mencerna isi dari artikel saya ini. Memang dari ketiga alasan yang saya sebutkan di atas yaitu rasa malas, tak ada waktu, dan tak bergairah merupakan penyebab alasan saya tidak memposting artikel lagi.

Harus saya akui 2 bulan lebih sudah saya bekerja di sebuah perusahaan jasa pengiriman (ekspedisi) di salah satu sudut di Ibukota. 2 bulan lebih sudah pula saya merasakan dan menikmati kerja sebagai orang kantoran, kerja duduk di depan komputer yang notabene masyarakat memandang hal seperti itu amatlah menyenangkan dan nyaman karena tidak berlarut dalam kelelahan dan kecapaian, akan tetapi siapa bilang kerja seperti itu begitu menyita pikiran dan otak terutama kemampuan indra penglihatan saya. Mata saya dituntut untuk focus pada sebuah monitor yang membuat indra penglihatan saya ini jika terlalu lama memandangnya akan merasakan lelah, pedih, perih terutama kinerjanya akan berkurang. Karena terus terang saja, ketika saya masih menjadi status sebagai mahasiswa, saya pernah memeriksakah mata saya ini dan hasilnya mata saya sudah min 2. Sungguh hal yang tak diduga dan tak disangka mata saya sudah sepantasnyalah dibantu dengan alat yang bernama kacamata. Namun, saya masih enggan memakainya karena kalau boleh jujur saya belum siap… belum siap tampil beda. Hahay

Rutinitas yang mau tidak mau harus dijalani dan dilakukan. Kadang diri ini sempat merasakan kehidupan ini terasa monoton dan berontaklah diri ini, apalagi ditambah jika kita memandang tentang upah yang diberikan dan jam kerja yang gila sampai waktu yang semestinya dipergunakan untuk istirahat kita pun terpakai oleh kerjaan kita sungguh membuat hati ini sakit. Sakit karena kerjaan yang menumpuk, waktu pulang yang tak menentu merasa tak sebanding dengan materi yang diberikan oleh perusahaan tempat saya bekerja tapi apa mau dikata hanya orang tidak ikhlas yang merasakan demikian, karena rejeki seseorang dan semua orang datangnya dari Allah SWT bukan dari tempat kerja kita, tempat kerja kita atau perusahaan hanyalah perantara bagaimana Allah menurunkan rejeki pada makhlukNya. Ya begitulah hidup, hidup di dunia kerja, karakteristik tiap-tiap perusahaan dan manajemennya pastilah berbeda-beda, apalagi kita berada di negara yang katanya makmur. Entah benar atau tidak?

Suka duka telah dan kan saya rasakan lagi bersama saudara-saudara saya dari Bogor EduCare (Olih, Tejo, Ucup, Mamu dan Junot) di sebuah rumah berbentuk kontrakan yang kita menyebutnya mess. Dinner dan breakfast yang insya Allah selalu bersama, di sebuah nampan yang berisikan nasi yang kita masak dari magic com dan menu yang bervariasi dibeli dari warung makan dari hasil patungan, sungguh nikmat yang tiada tara karena kita makannya bersama. Walaupun terkadang ada orang yang menganggap hal tsb aneh dan macam-macam, tetap kami lakukan karena sudah terbiasa dan kami menyebutkan hal tsb adalah santri style. Karena memang saya akui saya pernah melihat para santri di pesantren jikalau sedang makan dengan cara seperti itu. Insya Allah jika dilakukan secara berjamaah mendapat banyak berkah dan berpahala. Amin

Tinggal seatap, serumah dengan penghuni 6 orang sungguh saya rasakan sebagai sebuah keluarga. Meskipun tidak ada yang namanya ayah, ibu apalagi anak. Jika bukan keluarga, mau dibilang apa? Satu sama lain saling menunggu ketika berangkat kerja dan pulang, satu sama lain saling mengantri ketika ada kepentingan di kamar mandi yang tak mungkin kami lakukan secara bersama. Tidurpun terkadang terkesan bersama padahal sebenarnya kami memakai kasur dan bantal masing-masing. Namanya sebuah keluarga, ada saja yang namanya konflik, hal-hal kecil yang terkadang dibesar-besarkan sempat membuat keluarga ini terkesan tak harmonis. Namun, jalan keluar pastilah ada keharmonisan dan ukhuwah satu dengan yang lainnya jika satu sama lain saling mengerti dan memberi solusi takkan pernah pudar lagi.

2 bulan lebih diri ini tinggal bersama dan bekerja terkadang merasakan kejenuhan dan keBETEan, tapi apa mau dikata dalam hidup hal seperti itu pastilah terjadi. Tergantung pikiran dan perasaan kita sudah sepantasnyakah rasa kejenuhan dan keBETEan kita ungkapkan dan rasakan. Keimanan, ketaqwaan dan keikhlasan yang begitu kuat terdapat pada diri setiap makhluk di bumi rasa kejenuhan itu takkan terjadi, karena Allah tempat kita bergantung, meminta dan mencurahkan perasaan-perasaan yang ada di dalam hati kita.

Minggu, 06 Juli 2008

AKHIRNYA DATANG JUGA...


Sekian kali berdoa, sekian kali berusaha, sekian kali pula meminta restu orang-orang tercinta dan terdekat. Itulah yang saya lakukan ketika diri ini belum mendapat sesuatu yang diinginkan, yaitu bekerja. Bekerja di tempat yang diinginkan, bekerja yang sesuai dengan bidangnya dan bekerja di tempat untuk mengaplikasikan ilmu yang saya miliki dari hasil perjuangan saya di Bogor EduCARE (www.bogoreducare.org) yang notabene pendididikan tersebut 100% gratis dan ilmu yang diajarkan begitu bermanfaat. Bukan maksud sok mau pamer, namun begitulah hidup jika masih ada iman di dalam hati suatu hal yang ingin kita capai dan peroleh haruslah ada perjuangan dan pengorbanannya karena hidup haruslah ada proses tidak selamanya harus serba instant walaupun kita hidup di zaman modernisasi di negeri yang sangat berkembang pesat karena harga kebutuhan-kebutuhan pokoknya selalu berkembang alias naik terus.
Jika anda pengunjung dan pembaca setia blog saya, tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Saatnya Bergerak”, setelah perusahaan-perusahaan yang saya sebutkan pada artikel tersebut. Saya mulai bergerak kembali mencari dan berusaha lagi melamar ke beberapa perusahaan. Yaitu TB. Gramedia Pajajaran Bogor, Yamaha Arista dan Wahana.

TB Gramedia, tadinya merupakan sebuah perusahaan yang saya inginkan agar bisa keterima. Bagaimana tidak? Perusahaan tersebut lokasinya cukup terbilang strategis, tepatnya di Jl. Pajajaran Br. Siang-Bogor seberang Masjid Raya Bogor. Perjalanan dari rumah saya di Gadog agar sampai ke tempat tersebut hanya Rp 2.500 naik coltmini (Cianjur-Bogor). Dari persyaratan yang diajukan oleh TB. Gramedia saya pun merasa optimis bahwa saya pasti bisa bekerja di tempat tersebut. Lowongan yang dibuka adalah Pramuniaga dengan syarat: min. D1, tinggi 165 cm, menguasai ms. Office dan aktif berbahasa Inggris, berkelakuan baik, dan berpenampilan menarik. Indra banget bukan? Hahay… Memang takdir berkata lain dan memang bukan rejeki saya di Gramedia, entah kenapa saya tidak keterima di sana? Saya akui ketika proses interview berlangsung, saya terlalu menunjukkan sikap optimis dan penuh percaya diri, dan menunjukkan keidealisan saya yang berpegang teguh akan argumentasi diri sendiri. Mungkinkah demikian? I don’t know.

Setelah itu saya memenuhi panggilan interview dan tes (ms. Excel) di sebuah perusahaan dealer resmi motor Yamaha PT Arista Mitra Lestari yang mempunyai banyak cabang atau biasa disebut Yamaha Arista di Jl. Narogong Cileungsi Bogor (tempatnya dekat dengan BUKAKA, pangkalan 10 Narogong), dan hasilnya saya diterima. Namun saya kecewa, saya melamar sebagai admin karena pada iklan di korannya pun demikian akan tetapi saya malah ditempatkan di bagian gudang sebagai kepala gudang merangkap supervisor gudang dan admin gudang. Saya harus menjalani training dulu di Yamaha Arista Citeureup selama 3 bulan setelah itu saya akan di tempatkan di cabang yang lain di Bogor atau di Tajur dengan kontrak 1 tahun setelah itu ada kemungkinan menjadi karyawan tetap, Enak Dunx!!! Baru 3 hari menjalani training saya sudah merasa tidak nyaman. Tanya Kenapa? Selama 3 bulan saya hanya dibayar Rp 700 ribu, bukan berarti saya tidak mau bersyukur, saya hanya kasihan pada orang tua saya, modalnya terlalu gede. Pulang pergi Gadog (Ciawi)-Citeureup berapa? (kira-kira Rp 12.500), dari hari Senin-Sabtu. Mana cukup. Disamping itu jobdes dan tanggung jawabnya pun terlalu berat, jika ada barang di gudang yang hilang gaji saya akan dipotong, selain itu saya masih sangat awam dengan onderdil dan spare part sepeda motor, kalau spare part computer sih lumayan tahu.

Setelah itu timbullah keinginan untuk berhenti dan pindah pekerjaan. Teman saya, sebut saja Olih, dia memberi kabar pada saya dan teman-teman saya yang lain untuk melamar kerja di sebuah perusahaan yang jauh dari rumah saya tepatnya di Ciputat, yaitu di Wahana (Courier & Air Cargo Specialist). Katanya, perusahaan ini minta anak-anak lulusan Bogor EduCARE sebagai karyawannya, apakah alasannya? Nanti aja Tanya ke Olih, kalau diceritain di blog ini terlalu panjang. Memang perlu persiapan, pemikiran dan keyakinan yang matang untuk bekerja di sana. Maklum saja, saya sebagai anak yang pernah lama menjadi bungsu yang sering dekat dengan orang tua. Tiba-tiba haruslah berpisah dan jauh dari orang tua dan orang-orang terdekat di rumah dan di kampung halaman tercinta (Gadog City) karena hal demikian. Tak apa-apalah, jika tidak demikian kapan saya bisa mandirinya dan bersikap lebih dewasa? Lalu pergilah saya ke Wahana untuk interview, karena Olih dan teman yang lain sudah resmi bekerja di sana. Setelah itu, saya resmi diterima di perusahaan ini dengan konsekwensi jam kerja yang lumayan padat dari hari Senin-Sabtu dengan upah sekian dan status kontrak 1 tahun, dan mendapat fasilitas mess untuk tempat tinggal. Dari hari ke hari saya pun haruslah mulai beradaptasi dengan orang dan lingkungan sekitar dan yang paling penting dengan jobdes saya. Saya merasa senang ternyata, bidang dan jobdes saya sesuai yang diinginkan. Kemampuan Ms. Office dan berselancar di dunia maya (internet) yang saya miliki insya Allah bisa diaplikasikan. Kalau kemampuan Bahasa Inggris saya, little-little sih teraplikasikannya.


Ya begitulah cerita saya, proses saya bisa bekerja di Wahana dengan jabatan sebagai Pelaksana HRD. Memang jauh rasanya tujuan dan tanggung jawab ketika Job Training Sept-Nov 2007, bekerja administrasi selama 2 bulan di Departemen Procurement (Purchasing & Warehouse), HRD, Marketing dan Produksi PT Inti Abadi Kemasindo (SBU Packaging PT ISM Bogasari Flour Mills) anak perusahaannya PT Indofood Sukses Makmur dengan sekarang bekerja di HRD lebih tepatnya di bagian GA (General Affair) istilah yang sering digunakan di perusahaan-perusahaan, di PT Wahana Prestasi Logistik. Tujuan dan tanggung jawab saya ketika di Bogasari adalah untuk memenuhi tugas akhir kelulusan saya setelah itu membuat laporannya setelah itu lagi di uji dengan cara disidang (presentasi dalam bahasa Inggris), akan tetapi tujuan dan tanggung jawab saya di Wahana adalah karena memang seharusnya saya melakukan demikian karena sudah lulus kuliah dan ingin membantu ekonomi keluarga dengan didasari rasa ikhlas dan ridho Allah SWT tanpa paksaan.

Saya berharap dalam kehidupan ini, bekerja dari hari ke hari yang saya alami ini tidak mau dianggap menjadi rutinitas semata dan terkesan monoton. Akan tetapi, saya ingin setiap hal yang terjadi setiap harinya dijadikan bahan evaluasi dan pembelajaran agar hari berikutnya lebih baik. Sempat saya berpikir ketika kesibukan saya di Senin pagi, setelah mandi dan solat subuh, sarapan lalu berbincang-bincang dan pamit dengan orang tua untuk pergi bekerja yang insya Allah seminggu sekali bertemu kembali, setelah itu mengamati aktivitas, hilir mudik bis-bis di Terminal Br. Siang-Bogor, sorakan kenek-kenek bis mencari penumpang, orang-orang yang akan berangkat kerja mencari dan menaiki bis-bis sesuai jurusannya, Polantas dan DLLAJ yang sedang sibuk melakukan tanggung jawabnya di Terminal sesekali memalaki pengendara sepeda motor yang katanya melanggar UU lalu lintas, nyaris tak ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Akankah ini terulang kembali di hari berikutnya?

Akhirnya datang juga, sengaja saya pakai kalimat itu untuk judul artikel ini dengan pengertian cukup luas. Akhirnya datang juga… rejeki dari Allah itu pada diri saya, akhirnya datang juga… pekerjaan yang saya harapkan, akhirnya datang juga… saya harus benar-benar mandiri dan lebih dewasa dalam menjalani hidup, dan akhirnya datang juga2… yang lain yang tentunya haruslah positif.

Kamis, 05 Juni 2008

APA YANG TERJADI???


Meskipun udah telat mengeluarkan opini tentang tulisan ini, tapi dampaknya masih terasa kok! Bahkan sampai jangka panjang ke depan. Akhirnya pemerintah resmi mengumumkan kenaikan BBM, Jum’at (23/05/2008) jam 22:15 WIB. Kok malam-malam sih? Suatu hal yang bisa dikatakan mendadak itu, kian membuat penderitaan rakyat semakin menderita dan kian membuat kesengsaraan rakyat kian sengsara. Hal-hal yang memicu dan mendorong pemerintah mau menaikkan harga BBM, katanya sih karena harga minyak dunia semakin melambung tinggi, dan pemerintah gak sanggup menanggung harga tersebut alias pemerintah gak bakalan lagi mampu mensubsidi minyak untuk rakyat dari APBNnya.

Entah apapun alasannya, sebagai Jamrud khatulistiwa negeri kita (Indonesia) yang katanya anggota OPEC alias Organisasi Pengekspor Minyak Dunia yang berarti di dalam negerinya itu kebutuhan akan minyaknya tercukupi karena banyak dan kaya sumber-sumber minyaknya, kok merasa kebakaran jenggot sih? harusnya Indonesia untung donx, kan jualan minyak. Akan tetapi kenyataannya, katanya Indonesia malah membeli minyak dari luar yang berarti di sisi ini peran Indonesia sebagai konsumen bukan Produsen. Lalu selama ini, benarkah Indonesia punya banyak sumber-sumber minyak? That’s Right.

Ketidakberdayaan pemerintah untuk mengolah dan mengelola sumber minyaknya sendiri, itulah penyebabnya. Padahal dipikir-pikir orang-orang pintar dan orang-orang kaya di Indonesia banyak loh, mana mungkin sih mereka gak bisa mengolah minyak mentah menjadi BBM. Alasan lainnya karena privatisasi, sumber2 minyak, barang tambang, mata air dan asset2 penting berharga lainnya malah diserahkan pada pihak swasta apalagi pihak asing, padahal dalam undang-undang sendiri disebutkan dalam pasal (lupa lagi) hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikelola Negara. Berarti selama ini pemerintah telah ingkar pada dasar negaranya sendiri dunx.


Meskipun berbagai pihak banyak yang mengecam atas tindakan pemerintah kita tentang hal tersebut, tetap saja pemerintah tidak mau pusing dan menganggap suara-suara kecaman tersebut sebagai rengekan belaka. Entah mereka malas mendengar, tidak mau mendengar atau tidak bisa mendengar dan merasakan penderitaan rakyat yang jika pemerintah melakukan kenaikan harga BBM, penderitaan dan kesengsaran kian bertambah. Menurut info yang saya dapat dari media Televisi, sebuah lembaga survey di Indonesia menyebutkan bahwa masyarakat miskin di Indonesia sebanyak 40 juta orang lebih. Sungguh angka yang fantastis, di tengah banyaknya rakyat miskin di Indonesia masih saja ada orang-orang yang tidak tergolong miskin mau merampas hak orang miskin. Sungguh sangat zolim sekali. Sebagai contoh, BLT yang katanya merupakan bantuan untuk masyarakat tidak mampu yang merupakan kompensasi atas naiknya harga BBM kaya akan praktek tercela. Korupsi kerap dilakukan oleh berbagai pihak tak terkecuali oknum pemerintah terkait, orang2 yang merasa dirinya oknum dan masyarakat yang tidak punya rasa malu. Yaitu masyarakat yang mau-maunya dirinya mengaku-ngaku sebagai orang miskin hanya untuk mendapatkan Rp 3.000/hari tiga ribu rupiah perhari (hitung aja sendiri, Sebulan kan 30 hari, BLTnya Rp 100.000) padahal dirinya tergolong mampu. Sangat miris kita mendengarnya, padahal masih banyak loh masyarakat yang harusnya mendapat BLT tersebut (masyarakat yang betul2 miskin ekonomi) kok malah tidak dapat bantuan tersebut. Dengan alasan tidak punya inilah, itulah! Harus punya kartu inilah, surat itulah… intinya kalau mau dapat Rp 3.000 per hari harus siap2 repot, seperti mengurus persyaratan-persyaratannya. Mending gratis, udah ribet-bayar pula. CAPEK DEH!!!


Terkait hal demikian, saya mempunyai info yang berisi solusi bagaimana seharusnya mengatasi hal tersebut yang saya dapat dari lembaran pernyataan salah satu Organisasi Massa / Ormas Islam di Indonesia, yaitu :


Hentikan liberalisasi dan privatisasi asset-asset kemaslahatan umat yang ada di Indonesia!!!
Nasionalisasikan sektor energi, termasuk migas!
Jangan pernah mempercayai penguasa yang zhalim!
Kesulitan dan hidup yang dialami oleh rakyat saat ini adalah dampak diterapkannya Kapitalisme Sekular, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Maka, sudah saatnya, system Kapitalisme Sekular yang selama ini mencengkeram Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak harus segera ditinggalkan. Gantinya adalah ISLAM


Bukan maksud saya sok ikut campur tentang politik, tapi masalahnya ini banyak kaitannya dengan diri saya, keluarga saya, saudara saya, kerabat saya, teman saya, guru saya, kampung saya, dan Negara saya. Bayangkan saja, kehidupan ekonomi keluarga saya yang sudah sulit sejak perusahaan tempat ayah saya bekerja sudah bangkrut karena pemerintah juga sih yang salah, mahalnya pajak, BBM, Listrik, dan mahal-mahal lainnya, saat ini kian membuat sulit. Tapi Alhamdulilah, kesulitan masih bisa teratasi kok. Tapi bagaimana dengan masyarakat yang lain, yang betul-betul tidak berdaya menghadapi keterpurukan kehidupan ekonominya??? Masih teringat dalam benak ketika masa SMP, ongkos untuk pulang pergi ke sekolah hanya Rp 800 (Naik angkot Cisarua-Sukasari turun di Seuseupan atau Ciawi terus naik angkot jurusan Cibedug-Sukasari, tapi sekarang kalau dihitung bisa Rp 8.000 loh). Berapa kali lipatkah???

Kapan ya bisa seperti dulu lagi? Ongkos naik angkotnya murah banget, harga satu kali pulang pergi naik angkot sekarang bisa sepuluh kali pulang pergi waktu saya SMP??? JANGAN GILA DONX!!!

Seiring perkembangan waktu yang berjalan setiap detiknya, semua hal berkembang pula. Termasuk harga-harga ikut berkembang alias naik, baik itu harga kebutuhan pokok, transportasi, ATK, elektronik, dan hal-hal lainnya. Baik itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bahkan saking melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, misalnya beras banyak masyarakat yang memakan nasi aking, tapi masih mending sih! Bahkan ada yang tidak makan sama sekali.

Kita bahas topik yang lain ya, tapi nanti juga nyambung lagi sama cerita di atas! Terkait insiden Monas yang terjadi pada hari minggu 1 Juni 2008, tentang kasus kekerasan pemukulan yang dilakukan Laskar Front Pembela Islam atau FPI kepada AKKB (Aliansi Kebangsaan Kerukunan Beragama). Banyak pihak yang menyayangkan mengapa terjadi hal seperti itu. Pihak AKKB yang katanya sedang apel siaga untuk memperingati Hari Kebangkitan Pancasila diserang oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Laskar FPI atau Laskar Islam, dengan tangan kosong, bambu, pentungan massa FPI memukuli orang2 AKKB. Sehingga menyebabkan belasan orang luka-luka dari pihak AKKB. berdarah di kepala dan anggota tubuh lainnya.

Apa yang terjadi setelah itu? Banyak pihak yang mengecam atas tindakan FPI, dan banyak pihak juga yang menginginkan FPI dibubarkan saja. Dengan argument yang dilontarkan mengapa FPI ingin dibubarkan karena Islam tidak mengajarkan kekerasan boleh saja berbeda pendapat tapi jangan bertindak anarkis selesaikanlah dengan bijak di sebuah forum. And then my opinion is secara saya sebagai umat Islam dan pernah terlibat dalam salah satu ormas Islam yang ingin menegakkan syari’at Islam, sangat disesalkan dan kecewa akan perbuatan anarkisnya FPI karena seakan-akan sama sekali tidak sesuai dengan akhlaq Nabi Muhammad yang benci dengan kekerasan. Akan tetapi saya sangat mendukung niatnya FPI yang ingin membubarkan Ahmadiyah di Indonesia. Dan tak disangka tak diduga menurut pihak Laskar Islam ternyata AKKB yang ada di monas itu mereka berkumpul untuk mengutarakan bahwa mereka mendukung Ahmadiyah dan siap membela Ahmadiyah jangan dibubarkan dan memang di monas itu bukan hanya AKKB yang ada tetapi pengikut Ahmadiyah pun ada di sana.


Kenapa Ahmadiyah harus dibubarkan? Karena mereka merupakan aliran kepercayaan yang telah menodai agama Islam, mereka mengaku Islam tetapi mereka mengaku ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Sungguh perbuatan yang sangat mengingkari Islam. Padahal telah disebutkan dalam AlQur’an bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir atau penutup para nabi dan artinya setelah Baginda Nabi Muhammad SAW wafat tidak ada lagi nabi yang lahir ke dunia ini. Tidak hanya itu kenapa Ahmadiyah harus dibubarkan, silahkan cari tau sendiri? Sebenarnya saya juga tau cuman takutnya salah mendeskripsikannya.

Pernah saya membuat pesan singkat dalam bentuk SMS dan mengirimkannya kepada beberapa teman saya yang isinya berupa dukungan terhadap niat FPI atas pembubaran Ahmadiyah. mengapa saya membuat seperti itu? Tadinya saya tidak mau membuat itu, tapi ada beberapa teman dan saudara saya yang isinya hampir sama dengan SMS yang saya buat, tapi teman dan saudara saya SMSnya bernada lebih keras bahkan sampai 3 SMS sekaligus yang berisi dukungan terhadap FPI dan tuntut pembubaran Ahmadiyah. Sehingga datanglah inspirasi untuk membuat SMS seperti itu dan membuat tulisan tersebut untuk blog saya. He..he..

Berbagai media massa, baik cetak dan elektronik memberitakan tentang FPI sehingga membuat masyarakat tertuju pada hal itu dan seolah-olah gak ada masalah kok di kehidupan saya! Padahal sebenarnya masyarakat itu sedang kewalahan dan kebingungan karena naiknya kebutuhan2 pokok. Media massa yang tadinya ramai memberitakan tentang demo-demo yang terjadi di ibukota dan kota-kota lainnya di Indonesia untuk menolak dan membatalkan kenaikan BBM dan menolak BLT, tiba-tiba seketika media massa ramai memberitakan tentang kasus FPI insiden monas. Ada apa ini? Apa yang terjadi? (Seperti judulnya)

Yang jelas argument dan alasan saya membuat tulisan ini untuk mengisi blog saya karena sudah lama ga ngisi tulisan lagi dan juga atas permintaan banyak pihak yaitu pengunjung-pengunjung blog saya yang mengatakan pada saya “dra, kok isi blognya masih yang itu? Belum posting lagi.” Lalu saya jawab “Oh nanti, saya lagi nyari insprasi” dan sebenarnya yang paling penting sih saya ga punya waktu untuk ke warnet karena jauh dari rumah saya harus naik angkot dan yang paling penting dan ga kalah pentingnya sih saya ga punya uang alias dana untuk dianggarkan ngenet di Warnet karena sebagai orang yang statusnya masih nganggur belum kerja alias belum punya penghasilan sendiri masih mengandalkan orang lain yaitu orang tua agar bisa mendapatkan uang. Kalau dikasih ya syukur Alhamdulillah, kalau nggak ya terpaksa diam aja deh di rumah sambil nyari inspirasi.

Sekali lagi, apa yang terjadi dengan berita di atas dan lingkungan sekitar? Dan apa yang terjadi dengan diri saya dan diri anda, sudah memang takdir Ilahi. Kehidupan ibarat sebuah sinetron, yang setiap saat episodenya berbeda-beda.
Laa yu kalifullahu nafsan illaa wus ‘ahaa
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya”
Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali jika kaum itu sendiri merubahnya…

Rabu, 21 Mei 2008

OPINI JOB


Sumber daya manusia berkualitas yang terampil dan berkemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang sangat diperlukan dalam memasuki dunia kerja saat ini. Lapangan kerja yang sempit dan tingginya angka masyarakat usia produktif yang belum memiliki pekerjan kian membuat persaingan meraih peluang pekerjaan semakin ketat. Oleh karena itu, kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya kemampuan mengoperasikan komputer dan kemampuan berbahasa Inggris akan memudahkan seseorang meraih peluang pekerjaan yang penuh daya saing ini.

Tulisan yang anda baca di atas merupakan bagian dari penulisan laporan Praktek Industri saya beberapa saat yang lalu sebagai tugas akhir kelulusan, tepatnya pada Bab I. Pendahuluan, A. Latar Belakang Praktek Industri. Saya menuliskan hal demikian berdasarkan realita yang ada. Mana ada sih, perusahaan yang mau menerima seseorang untuk dijadikan sebagai karyawannya tidak berkualitas. Jika ada, mungkin itu sebuah keterpaksaan, takdir, factor nepotisme atau mungkin uang yang berbicara. Bayangkan saja tiap tahunnya di Indonesia usia produktif yang baru lulus dari bangku SMA bahkan sarjana selalu bertambah, dan itu bukan pada hitungan puluhan, ratusan, atau ribuan melainkan jutaan (JUTAAN). Iya, jutaan warga Indonesia yang siap bekerja harus siap menjadi pengangguran. Bagaimana tidak? Bertambahnya populasi usia produktif tidak diimbangi dengan bertambahnya lapangan kerja. Dari hasil survey yang pernah saya baca dari salah satu media cetak di Indonesia menyatakan bahwa kesempatan bekerja bagi seseorang itu 1:1000 (satu banding seribu) namun ada juga yang mengatakan 1:100 (satu banding seratus). Terserah anda mau memilih yang mana atau mungkin anda punya pendapat sendiri dengan sumber terpercaya yaitu 1:1000.000 (satu banding sejuta). Yang jelas apa artinya itu? mendapatkan pekerjaan bagi seseorang itu peluangnya sulit apalagi bagi seseorang yang tidak mempunyai keterampilan sama sekali atau masuk kategori SDM tidak berkualitas.

Beda halnya dengan SDM berkualitas yang mempunyai keterampilan dalam berbagai bidang. Misalnya bidang IPTEK, pada zaman era modernisasi yang sudah terkomputerisasi mereka (SDM Berkualitas) dengan mudahnya keluar masuk dan menolak menerima tawaran pekerjaan dari perusahaan yang membutuhkan skillnya. Hanya duduk di depan computer ditemani sejuknya AC, seseorang bisa dengan mudah melamar pekerjaan kebanyak perusahaan hanya dalam hitungan menit atau bisa juga sejam tanpa harus bercapek-capek berkeliling ke tiap perusahaan hanya untuk memberikan amplop coklat yang berisi surat lamaran, pas foto, CV, ijasah dan lain2 masih mending kalau ada lowongan itupun hanya sekedar menitipkan saja. Maksud dari tanpa harus bercapek-capek? Hanya dengan uang Rp 2500 atau Rp 4000, seseorang bisa menjelajahi dunia maya di Warnet (warung Internet) untuk mencari lowongan-lowongan pekerjaan dengan membrowsing situs-situs yang khusus berisi info lowongan pekerjaan atau bahkan ada yang lebih mudah, sewaktu-waktu email kita inboxnya akan penuh dengan lowongan2 pekerjaan. Dengan mengklik lowongan pekerjaan yang kita mau, acara melamar pekerjaan sudah kita laksanakan, Mudah Bukan?. Tapi tunggu dulu, mudah bagi orang yang sudah mengetahui namun sulit bagi orang yang belum mengetahui.

Oleh karena itu, pada kalimat terakhir pada paragraph pertama Bab Pendahuluan laporan saya mengapa berbunyi seperti itu? Karena sudah saya pikirkan sebelumnya memang kenyataannya seperti itu di lapangan yang saya temukan. Jika tidak, terserah anda because it is my opinion.
Dalam hitungan minggu atau mungkin sebulan lebih seseorang hanya tinggal menunggu panggilan dari perusahaan2 yang telah kita lamar lewat internet. Kemudian memenuhi panggilan perusahaan tersebut hanya untuk proses interview atau tes-tes tanpa harus menjelaskan maksud kedatangannya untuk melamar. Menolak dan menerima pekerjaan itulah jawaban yang akan dikeluarkan bagi sang pelamar, kebanyakan sih gitu? Yang pernah saya alami. Sebagai contoh mengapa saya menolak pekerjaan dari perusahaan yang saya lamar, karena tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan, bagaimana tidak? Mereka mau menggaji saya pada saat bulan ke-5 saya bekerja, itu artinya selama 5 bulan itu saya harus menyediakan dana yang besar untuk kebutuhan saya sehari-hari selama bekerja. Untuk ongkospun pas-pasan apalagi buat ngekos dan makan sehari-hari, karena hidup di Ibukota itu penuh dengan intrik.

Masalah sulitnya mencari lapangan pekerjaan, memang sudah lagu lama yang akan menjadi lagu baru yang dimodifikasi setiap tahunnya. Persebaran kemakmuran dalam hal ketersediaan lapangan pekerjaan yang tidak merata adalah alasan nyata, yang sering membuat seseorang tergoda untuk mencari pekerjaan di kota-kota besar. Sebagai contoh, setiap kali saya membuka email saya, atau ketika membuka situs info lowongan kerja, Jakartalah yang mendominasi bahwa lowongan dari perusahaan2 itu berada di sana. Tak satu pun lowongan pekerjaan dari kota saya, Bogor tapi pernah sih ada cuman satu. Dan itu artinya yang salah itu siapa? Warga desa yang pergi ke kota (Jakarta) yang tiap tahunnya Jakarta dibanjiri para pendatang yang mengadu nasib dan berpikir Jakartalah surga pencari kerja atau perusahaan-perusahaan yang memang keinginan mereka mau membuka lapangan pekerjaan hanya di kota besar atau bahkan yang salah itu pemerintah yang lalai dalam hal persebaran kemakmuran, bukan hanya persebaran lapangan pekerjaan tetapi lalai dalam persebaran fasilitas2, sarana prasarana yang tidak dapat dirasakan masyarakat desa dan daerah.

Kita hanya bisa berharap dan berdoa semoga orang-orang yang pandai bersilat lidah tatkala mencalonkan dirinya sebagai pemimpin, baik itu pemimpin daerah dan pemimpin Negara pada saat kampanye, dengan mudahnya dan mulut manis memberikan janji muluk bahwa mereka AKAN menyediakan jutaan lapangan pekerjaan, pendidikan gratis, kesehatan gratis, apapun gratislah dan katanya dalam waktu dekat, semoga, semoga, dan semoga itu akan menjadi kenyataan. Memang hidup yang layak dan sekeliling kita sejahtera hanyalah sebuah mimpi dan angan belaka, dan memang untuk mendapatkan sebuah kesuksesan harus berawal dari mimpi tapi jangan menjadi pemimpi sejati. “Apa yang anda pikirkan menjadi kenyataan” Semoga pemimpin kita tidak zolim terhadap rakyatnya, suatu saat kelak. Tidak seperti sekarang ini, semua harga dinaik2kan dengan argument yang sangat meyakinkan disertai bukti nyata sehingga berefek jumlah warga miskin bertambah dan warga miskin bertambah miskin.
Tinggal kita instropeksi apakah setiap musibah yang menimpa negara ini apakah ujian, teguran, azab dari yang maha kuasa terhadap kita sebagai warga Indonesia, apakah terhadap pemimpin kita, dan apakah terhadap system yang dianut Negara kita???

Tulisan ini saya buat karena merupakan momen yang tepat sebagai bahan stimulasi agar kita peka terhadap kondisi sekeliling disaat masyarakat2 usia produktif sedang bersiap-siap mencari pekerjaan karena mereka telah lepas dari bangku pendidikan dan disaat momen PILKADA-PILKADA telah berlangsung, sedang berlangsung, dan akan berlangsung dimana ketika para kandidat sedang berbusa-busanya mulut mereka bersuara memberikan janji-janji mensejahterakan masyarakat pada saat kampanye karena saking banyaknya. Setelah itu terserah anda!!!
Tiada Kemuliaan tanpa Islam…